MAKALAH
PERKEMBANGAN ISLAM DI TURKI
Dosen Pengampu Sudarwan, S.Pd.I. M.S.I.
Disusun Oleh :
M. Mazrul Wafa (15812561)
Junaidi ( )
SEKOLAH TINGGI AGAMA
ISLAM MASJID SYUHADA
( STAIMS YOYAKARTA)
TAHUN AJARAN 2015-2016
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr.wb
Alhamdulilahirobbilalamin,
rasa syukur kami hantarkan kepada Allah SWT atas segala karunia, rahmat,
rizki-nya dengan rasa terima kasih karena telah terselesaikannya tugas
pembuatan makalah tentang Perkembangan Islam
di Turki.
Kami menyadari bahwa banyak kekurangan dalam penyusunan makalah yang sangat sederhana ini baik kata-kata
maupun penulisan.karena dalam hal ini kami masih dalam tahap pembelajaran,
mungkin masih banyak hal-hal yang sangat perlu untuk diperbaiki. Maka dari itu
saran maupun kritik sangat kami harapkan untuk membangun diri,
dari para pembaca. Semoga dengan makalah ini dapat bermanfaat dari semua pihak yang memerlukan,
dan penulis mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang sesuai.
Wassalamu’alikum wr.wb.
Yogyakarta,
3 desember 2015
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Orang-orang Turki merasa lekat dengan agama yang
mereka anut semenjak berabad-abad lampau, mereka bahkan marah kalau dikatakan
bukan orang Islam. Sudah dipastikan agama Islam sebagai sesuatu yang sudah
berakar di Turki sulit untuk dipengaruhi dengan ide-ide Barat. Ini tidak
mengherankan. Karena rakyat Turki merasa punya keterikatan yang kental dengan
Islam. Setelah tahun 1940 semua aktifitas keislaman dihidupkan kembali oleh
mereka. Imam-imam Tentara pun sudah diaktifkan lagi di dalam Angkatan Bersenjata
Turki. Tahun 1949 pendidikan agama yang tadinya dihapus dalam lembaga
pendidikan Turki pun dihidupkan kembali, bahkan dijadikan mata pelajaran wajib
disekolah. Mulai tahun 1950 orang Turki yang tadinya dilarang menunaikan ibadah
haji dengan alasan pemborosan ekonomi, diperbolehkan lagi. Lembaga penerbitan
Islam juga sudah kembali menyiarkan ide-ide tentang Islam[11].
Para buruh tani, petani yang tadinya takut mengikuti ajaran Tarikat, kini mulai
berani. Bidang politik Islam yang tadinya dibubarkan dan dimusuhi oleh penguasa
pembaru juga mulai memainkan peranan. Sejumlah
tokoh yang walaupun tidak terlalu anti dengan ide pembaruan, namun sangat
berkompeten untuk menegakkan citra Islam mencoba membangun kembali kekuatan
Islam yang sungguh berbeda dari sebelumnya. Secara, kehidupan bernegara,
Konstitusi Turki tahun 1961 yang berlaku sekarang ini, mengatur agama baik
dalam teksnya sendiri maupun dalam rujukannya kepada serangkaian hukum organis.
Pada intinya telah memberikan peluang baru bagi Islam sebagai ajaran moral yang
mengikat dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara di luar dari momentum
konstitusi tersebut, yang tentu saja mempunyai hakikat pembebasan atas
pemberlakuan Islam sebagai pilihan masyarakat.
Kondisi Turki dewasa ini hanya meninggalkan warisan
sejarah tentang upaya modernisme yang dijiwai oleh sekulerisasi, namun
sekulerisasi itu sendiri boleh dikatakan kurang berhasil
sepenuhnya[12]. Keadaan
sosial sendiri merupakan suatu konsep yang memang sangat kuat bagi rakyat Turki
yang Islam masih mendambakan dewi keberuntungan tersebut, dan mengenai keadilan
sosial itu hanya bisa ditumpukan harapannya
kepada jalur-jalur nilai Islam.
B.
Tujuan Pembahasan
1.
Menjelaskan Sejarah
Politik Istambul Turki.
2.
Menjelaskan
Batas-batas Wiayah Turki.
3.
Menjelaskan Sosial
Budaya dan potensi Wilayah Turki.
4.
Menjelaskan
Perkembangan Islam Di Turki.
5.
Menjelaskan Tokoh-tokoh Islam di Turki.
PEMBAHASAN
A. Sejarah
Politik Negara Istambul Turki
Para ahli sejarah kuno menduga, bahwa bangsa Hittiti-lah yang pertama
menempati wilayah Turki sekarang. Pada awal-awal tahun Masehi, ia dinamakan
Bizantium dibawah kekuasaan Romawi yang
berkuasa di kawasan ini selama lebih dari empat abad. Dari tangan
Romawi kemudian orang-orang Barbar merebutnya dan memindahkan ibukota kerajaan
dari Roma ke Konstantinopel (Ibukota Turki Sekarang). Pada abad ke-12 M umat
islam dibawah bimbingan dinasti Abbasiyah dengan kekuatan orang-orang
Turki di bawah komando Erthogrul dan anaknya bernama Otsman, akhirnya dapat
merebut wilayah ini, sekaligus dinasti Abbasiyah memercayakan dan menghadiahkan
pemerintahannya kepada mereka. Pada abad ke-13 M berdirilah dinasti Utsmaniyah,
dan akhirnya oleh mereka ibukota kerajaan dinamakan Istanbul. Dulu wilayah
kekuasaannya paling luas di antara tiga kerajaan besar (Syafawi, Mughol, dan
Utsmaniyah saat itu), meliputi tiga benua yakni jazirah Arabia, Balkan,
Hungaria hingga kawasan Afrika Utara[1].
Dinasti Utsmaniyah merupakan salah satu dinasti pemerintahan Islam yang
paling lama berkuasa hingga zaman modern. Kekuasaannya meliputi tiga benua
Asia, Afrika, dan Eropa. Pemerintahannya memiliki kekuatan tentara yang mampu bersaing
dalam beberapa pertempuran dalam Perang Dunia di Lautan Mediterania dan ikut
berkoalisis dengan beberapa negara Eropa Modern seperti Jerman dan Itali.
Beberapa puluh sultan ikut memerintah dari keluarga besar pewaris kesultanan.
Akan tetapi, sejak Perang Dunia I Turki akibat banyak terlibat dalam peperangan
negara ini banyak terkuras dalam energi ekonomi, termasuk wilayah-wilayah
kekuasaannya banyak yang merdeka. Apalagi benyak sultan-sultan Utsmaniyah
belakangan banyak memiliki kelemahan. Maka sejak tahun 1925 M Turki diubah
menjadi negara sekuler, dengan menghilangkan sistem kekhalifahan ataupun
kesultanan di bawah pimpinan Mustofa Kemal Attaturk. Sultan yang sedang
berkuasa di lengserkan dan diganti dengan tokoh muda Turki Attaturk. Tahun 1950
untuk pertama kalinya Turki melakukan pemilu, Partai Republik bentukan Kemal
Attaturk dikalahkan oleh Demokrat. Tahun 1961 Partai Republik berkuasa kembali,
namun didominasi oleh Partai Motherland[2].
B. Batas-batas Wilayah
Negara Turki sekarang merupakan negara yang berada di dua benua; Eropa dan
Asia, dengan luas 780.580 km2 dan 95 %-nya berada di Asia.
Sejak tahun 1923 M, batas-batas negara Turki sebelah utara sampai Laut Hitam,
sebelah selatan sampai Syiria dan Laut Tengah, sebelah Barat Laut Aegea dan
Iran serta Rusia di sebelah Timur. Ibukota pemerintahan bernama Ankara. Sebelum
runtuhnya sistem kesultanan Utsmaniyah, geopolitik Turki mencakup dan meliputi
area wilayah yang sangat luas. Sejak munculnya imperialisme Eropa seluruh
wilayah Turki yang meliputi kawasan-kawasan Afrika Utara, Asia Barat termasuk
sebagian Eropa Timur sedikit demi sedikit mulai dilepaskan. Kekuatan Eropa
terutama Inggris dan Prancis, memaksa bagian-bagian kawasan Arab untuk
dilepaskan oleh Turki, batas-batas wilayahnya hanya sebagian kecil dari Eropa
dan Asia, seperti disebutkan di atas.
C. Sosial,Budaya dan Potensi Wilayah Turki
Banyak suku Kurdi berada dikawasan ini, sehingga secara politis sering kali
menjadikan konflik terutama kesalah-pahaman mengenai kebijakan-kebijakan
publik. Apalagi etnik Kurdi termasuk lebih banyak memilih pemahaman Islam yang
lebih konservatif sehingga upaya-upaya untuk menegakkan syariat Islam kembali
senantiasa disikapi secara represif oleh pemerintahan sekuler Turki. Sekalipun
demikian setengah dari 98% penduduk Turki yang beragama Islam terus melanjutkan
upaya ini meskipun sebatas gerakan bawah tanah. Tokoh cendekiawan Harun Yahya
yang muncul pada Tahun 2000 ini, salah satu di antara mereka merupakan fenomena
nyata dalam bentuk-bentuk perlawanan bawah tanah ini, penentang sekulerisme
sains[3].
Lebih dari separuh wilayah Turki adalah pegunungan. Sungai Eufrat dan
Tigris yang pernah menjadi pusat peradaban dunia juga melintasi wilayah ini.
Sejumlah potensi sumber daya alam tersedia dalam deposit yang melimpah. Salah
satu produksinya yang terbesar di dunia adalah kromit, lainnya adalah minyak
dan gas bumi serta batu-bara. Dengan bantuan Barat, industri di Turki
berkembang pesat, namun sektor pertaniannya tak ketinggalan dengan tingkat
penyerapan tenaga kerja mencapai 60 %[4].
D. Perkembangan
Islam di Turki Modern
Banyak orang muda laki-laki maupun perempuan, terus-menerus pindah ke kota,
untuk bekerja, pendidikan, atau latihan kerja. Sekalipun adanya perkembangan
yang semacam ini, tradisi Islam dari Keluarga Turki tetap dipertahankan. Bahkan
industrialisasi di daerah-daerah pedesaan menambah jumlah wanita yang memakai
cadar, karena mereka berpendapat harus menutup muka mereka dihadapan
orang-orang asing.
Pentingnya
pendidikan Islam bagi anak-anak Turki ditekankan diantara segenap lapisan
masyarakat pada tahun-tahun akhir ini. Surat kabar harian dan berkala Turki
menerbitkan banyak artikel tentang keharusan pendidikan Islam bagi
pemuda-pemudi. Semangat orang-orang Turki modern untuk menjadi suatu
bangsa yang modern dan demokratis, selalu disertai dengan kesadarannya yang
mendalam tentang watak dan ideal ke-Turkian dan keislaman[5].
Pendidikan agama mulai diadakan atas
dasar pilihan oleh rezim Republik di bawah tekanan opini rakyat. Pada waktu
Partai Demokrat memegang kekuasaan pada bulan Mei 1950, rezim baru itu
memperkenalkan pendidikan agama secara wajib, dan mengambil tindakan-tindakan
yang diperlukan untuk pelaksanaan kebijaksanaan itu.
Tuntutan untuk pendidikan Islam yang lebih tinggi makin meningkat sejak
tahun 1950. Selain daripada 26 sekolah untuk mencetak imam dan khatib, Fakultas
Ketuhanan di Universitas Ankara, Institut Riset Islam di Universitas di
Istanbul, tiga buah Institut Studi Islam Tinggi telah bekerja di Istanbul,
Konya, dan Izmir. Beberapa rencana untuk peningkatan jumlah imam dan khatib
telah disiapkan oleh pemerintah Turki sejak tahun 1960. Sementara mahasiswa
dari sekolah-sekolah imam dan khatib telah pergi ke luar untuk pendidikan yang
lebih tinggi pada tahun-tahun akhir ini. Ini merupakan suatu arah yang sehat
yang menujukan dorongan kuat dari rakyat dan pemerintah Turki untuk
mempertahankan tingkatan yang tinggi dari studi Islam. Bersama-sama dengan
sains dan seni modern.
Ketaatan orang-orang Turki untuk melakukan shalat, berpuasa, dan membangun
masjid-masjid yang indah adalah sangat terkenal[6].
Orang Muslim dari luar negeri yang datang ke Turki akan sangat terkesan oleh
disiplin dan tertib yang dilakukan oleh orang-orang Muslim Turki di dalam
masjid-masjid mereka. Kedatangan orang-orang muslim ke masjid di kota-kota dan
juga desa-desa adalah peristiwa biasa. Adzan dikumandangkan dalam bahasa Arab
sejak tahun 1950, dan salat juga dilakukan dalam bahasa Arab seperti biasanya.
Pembacaan Al-Qur’an oleh imam biasanya indah sekali, dan suaranya merdu.
Sa’di
seorang penyair masyhur dari Persia dalam salah satu dari syairnya menyatakan
bahwa orang-orang Turki itu diberi rahmat dengan keindahan pada permulaan
penciptaannya[7].
Tetapi Allah memberikan banyak sifat baik kepada bangsa Turki, yang berupa
kecerdasan otak dan watak yang baik, seperti keberanian, simpati yang mendalam
terhadap sesama manusia, termasuk musuhnya, sabar dalam menghadapi kesulitan,
jujur dalam tujuan, ikhlas dalam kata-katanya dan perbuatan, cinta yang
mendasar terhadap keluarga dan bangsa, dan dorongan kuat untuk memegang
pimpinan dalam setiap lapangan hidup. Adalah sifat-sifat ini yang memungkinkan
bangsa Turki untuk mempertahankan kedudukan mereka sebagai pemegang bendera
Islam selama seribu tahun lamanya. Perkembangan-perkembangan ini merupakan
manifestasi dari ikatan-ikatan persaudaraan Islam yang ada antara bangsa Turki
dengan bangsa-bangsa seagama di bagian-bagian lain dunia ini. Bangkitnya
negeri-negeri Muslim yang merdeka di Timur Tengah, Afrika Utara, Asia Tenggara,
dan Timur Jauh telah memperkuat kemungkinan kerjasama kebudayaan, ekonomi, dan
politik, di antara negeri-negeri itu dengan Turki. Kebudayaan Turki mempunyai
beberapa persamaan dengan kebudayaan Barat, hal ini disebabkan faktor-faktor
sejarah dan geografis. Orang-orang Turki dari Anatolia telah menjadi
penguasa dan pelindung ujung Barat dari dunia Muslim berabad-abad lamanya.
Mereka memerintah wilayah yang luas dari Eropa Timur dalam jangka waktu yang
lama. Seni impresionis modern telah diambil oleh seniman-seniman Turki sejak
gerakan sekularisme Republik Turki, melukis dan mematung diajarkan di
sekolah-sekolah Turki. Seni Turki kuno dalam beberapa hal masih tetap
dipelihara dalam alat-alat porselin, yang berisi lukisan-lukisan yang indah dan
menarik, termasuk kaligrafi Arab yang sangat indah. Ahli-ahli kaligrafi Turki
adalah mashyur dalam sejarah kebudayaan Islam, karena sempurnanya teknik dan
indahnya gaya mereka. Masjid-masjid Turki, perpustakaan dan museum telah
menyimpan beberapa contoh yang sangat indah dari kaligrafi Turki dalam bentuk
buku, monogram, dekrit sultan, dan inskripsi.
Dikatakan bahwa al-Qur’an itu diturunkan di bumi Hijaz, dibaca di Mesir,
ditulis di Turki. Adalah betul bahwa cara orang-orang Mesir membaca Al-Qur’an
telah memperoleh kehormatan yang tinggi diseluruh dunia Islam, dan mushaf
al-Qur’an yang paling baik adalah ditulis oleh penulis-penulis Turki, dan umat
Islam yang paling terkenal dengan sopan-santunnya dan kegiatan melakukan
ibadahnya adalah umat Islam Indonesia. Peninggalan-peninggalan tulisan mereka
masih tersimpan di museum-museum dan perpustakaan-perpustakaan di Turki. Mushaf Utsmani, mushaf al-Qur’an yang
ditulis oleh kaligrafis Turki yang sangat termasyhur, menjadi sangat populer di
seluruh dunia Islam. Pemerintah Turki selalu menaruh perhatian dalam mencetak
mushaf al-Qur’an, dengan maksud untuk memelihara keshahihannya. Kecintaan
orang-orang Muslim Turki pada kaligrafi tetap masih hidup hingga dewasa ini,
sekalipun adanya penggunaan tulisanLatin secara resmi. Monogram dan inskripsi
Arab dipergunakan sebagai hiasan di rumah orang-orang Turki, toko, dan
masjid-masjid mereka. Industri kerajinan tangan dari alat-alat yang dibuat dari
porselin merupakan alat yang ampuh untuk memelihara dan memamerkan tulisan
Arab. Sebagian besar dari orang-orang Turki setengah baya, baik laki-laki
maupun perempuan, termasuk pejabat-pejabat tinggi negara maupun diplomat masih
menggunakan tulisan Arab untuk surat-menyurat pribadi mereka.
Dalam arsitektur umum, Turki modern
mengambil bentuk Eropa secarra penuh. Namun, bentuk-bentuk mesjid yang baru
rupa-rupanya merupakan bentuk campuran antara arsitektur tua dan
modern. Musik Turki modern telah mengambil sistem polyphony dan
instrument Barat. Latihan musik Barat diberikan dalam pelbagai sekolah di
Ankara, Istanbul, dan kota-kota lain. Konsevatori Musik Nasional, Ankara,
selalu mempertahankan mutu latihan dan pergelaran yang tinggi. Banyak penyanyi
dan ahli musik Turki memberikan konser di ibukota-ibukota Eropa. Penghargaan
terhadap musik Turki modern terbatas pada minoritsas kecil dari kelompok elite.
Pencipta-pencipta musik Turki telah melahirkan banyak simfoni, opera, dan musik
ringan modern. Musik rakyat Turki adalah sangat popular di antara semua
kelompok masyarakat. Alat-alat musik yang dipergunakan oleh mereka adalah sama
dengan alat-alat yang dipergunakan di Timur Tengah. Alat-alat itu termasuk rubaab, santur, kemence (instrument
kecil yang pakai senar), davul
(drum) dan zurna (seruling).
Sebagian besar dari nyanyian rakyat berupa epik yang menggambarkan sifat-sifat
keberanian dalam perang-perang kepahlawanan. Disamping itu, tentu terdapat juga
nyanyian-nyanyian cinta dan lirik yang menggambarkan perasaan kemanusiaan yang
paling dalam dari rakyat Turki. Musik Turki Klasik adalah sangat indah
dalam teknik, kehalusan dan gaya. Menurut Ziya Gokalp musik itu diperkenalkan
oleh al-Farabi yang meminjam dari Bizantium. Musik-musik itu bias dinikmati
oleh orang-orang yang kenal musik Turki dan pencinta-pencinta musik Timur di
negeri-negeri Timur Tengah. Nyanyian-nyanyian dan lagu dari musik Timur Klasik
mempunyai keindahan yang sangat cenderung kepada mistik. Musik mistik
berkembang dan dipopulerkan oleh Syaikh-syaikh tarikat sufi dan Anatolia.
Organisasi-organisasi ini adalah yang paling berjasa dalam penyiaran Islam di
Anatolia dan Negara-negara Muslim lainnya. Mereka mengambil keuntungan yang
penuh dari corak musik yang popular, dan dipergunakan sebagai alat untuk
dakwahnya. Jadi, musik mistik mulai dipergunakan untuk peribadatan bersama.
Bangsa Turki diduga merupakan pioner musik perang di Eropa. Dalam imperium Osmaniyah,
musik tentara yang dinamakan Mehter biasanya digunakan untuk menyertai
angkatan perang di medan peperangan. Di antara bangsa-bangsa Muslim, bangsa
Turki mempunyai selera tinggi untuk merayakan perayaan-perayaan nasional mereka
dengan keanggunan dan kesyahduan. Dua perayaan yang penting dalam penanggalan
Islam, Idul Fitri dan Idul Adha, masing-masing secara resmi dirayakan selama
tiga hari. Hari Nasional Turki dirayakan pada tanggal 29 Oktober, untuk
memperingati berdirinya Republik Turki[8].
Parade-parade militer yang diadakan pada peristiwa-peristiwa nasional adalah
mengesankan dan penuh dengan warna-warni.
Parade-parade itu menggambarkan tradisi kepahlawanan dan keberanian rakyat
Turki. Tidak ada parade dianggap lengkap, kecuali dengan barisan kuda dan
joki-jokinya. Adalah menjadi kepercayaan umum di kalangan bangsa Turki, bahwa
kemenangan mereka di medan pertempuran adalah berkat ikut sertanya barisan
kuda-kuda pilihan dan penunggang-penunggangnya yang cekatan. Oleh karena itu,
kuda dianggap membawa berkah. Kuda Turki dianggap kuda yang paling baik di
dunia. Kantor-kantor pemerintah dan organisasi-organisasi
sosial swasta menaruh perhatian dalam melakukan program-program kesejahteraan
sosial, untuk meningkatkan kedudukan sosial wanita-wanita Turki. Kizilay (Bulan
Sabit Merah) padanan dari Palang Merah memberikan segala macam bantuan kepada
fakir-miskin dan orang-orang yang memerlukan, terutama para korban malapetaka
dan bencana nasional. Ia juga mengatur keberangkatan jamaah haji ke Mekah.
Dalam beberapa kejadian, organisasi ini juga memberikan bantuan kepada korban
banjir dan gempa bumi di negeri-negeri lain.
Kemajuan Turki dalam bidang sosial, kebudayaan, ekonomi dan politik pada
tahun-tahun belakangan ini menunjukkan bahwa dari semua negeri di Timur Tengah[9].
Turki adalah negeri yang paling cocok untuk perkembangan demokrasi.
Perkembangan institusi-institusi demokrasi sedikit demi sedikit tetapi tetap,
adalah suatu bukti bahwa di Turki terdapat pembawaan yang asli di antara
rakyatnya untuk mendapatkan tatanan sosial yang progresif dan demokratis.
Sebaliknya, kebangkitan kembali Islam telah menolak konsepsi yang salah di
antara para pengamat Barat, bahwa Islam dan demokrasi adalah tidak bias
berjalan bersama-sama. Memang mungkin juga ada beberapa kesalahan dalam
menerapkan demokrasi di Turki, dari pandangan Barat, tetapi tidak bisa
dipungkiri bahwa arah perkembangannya adalah menuju kepada system yang
lebih baik, yang didasarkan kepada struktur ekonomi yang mencukupi diri sendiri[10].
Hari depan Islam di Turki rupa-rupanya terang. Dalam pembinaan kembali
negeri-negeri Muslim, kita dapat belajar dari Turki, mana perkembangan
kebijaksanaan yang dapat di contoh dan mana yang tidak.
E. Tokoh-tokoh
Islam di Turki
Sultan Muhammad Al-Fatih, Sang Pembuka Istanbul Sejak kecil Ia telah
mencermati usaha ayahnya menaklukkan Kostantinopel. Bahkan beliau mengkaji
usaha-usaha yang pernah dibuat sepanjang sejarah Islam ke arah itu, sehingga
menimbulkan keinginan yang kuat baginya meneruskan cita-cita umat Islam. Ketika
naik tahta pada tahun 855 H/1451 M, dia telah mulai berpikir dan menyusun
strategi untuk menaklukan Konstantinopel.
Sultan
Sulaiman I atau Sulaiman Al-Qanuni (6 November 1494–5/6 September 1566) adalah
Sultan dan Khalifah Turki Utsmani. Sultan Sulaiman berhasil menyebarkan Islam
hingga ke tanah Balkan di Eropa meliputi Hongaria, Beograd, Austria, benua
Afrika dan Teluk Persia. Dilahirkan di Trabzon.Di awal usia 7 tahun, ia telah
di didik dengan ilmu kesusasteraan, sains, sejarah, agama dan taktik ketentaraan
di Istana Topkapi, Istanbul.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Turki
adalah suatu Negara Muslim modern yang didasarkan kepada prinsip-prinsip
demokrasi Barat. Jiwa nasionalisme Turki tetap merupakan kekuatan yang dinamis
lagi stabil yang mendorong kemajuan Turki Modern. Negeri-negeri Muslim lain
sedang melintasi tahap-tahap peralihan, dan berusaha untuk menegakkan pola-pola
pemerintahan demokrasi mereka sendiri. Bahwa Turki ingin memperkokoh
hubungan-hubungan kultural, ekonomi, dan politik dengan dunia Muslim lainnya
sekarang dan pada masa-masa yang akan datang. Dengan makin tumbuhnya swasembada
dalam kehidupan ekonomi dan industri, adalah patut bahwa Turki akan memainkan
peranan penting dalam masalah-masalah dunia.
B.
Daftar
Pustaka
1.
Sani, Abdul, 1998, Perkembangan
Modern dalam Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
2.
Thohir, Ajid, 2011, Studi Kawasan
Dunia Islam, Jakarta: Raja grafindo Persada.
3.
Lapindus, Ira M, 1988, Sejarah Sosial
Umat Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada.
4.
Ali, H.A Mukti 1994, Islam dan
Sekularisme di Turki Modern, Jakarta: Djambatan.
5.
Thohir, Ajid 2004, Perkembangan
Peradaban di Kawasan Dunia Islam, Jakarta:Raja Grafindo Persada.
6.
Ahmed, Akbar S, 2002, Rekonstruksi
Agama Islam, Yogyakarta:Fajar Pustaka Baru.
7.
http://ski2010mkspi.blogspot.co.id/2014/05/perkembangan-islam-di-turki-modern.html.
[1]
Ajid Thohir, 2011, Studi Kawasan Dunia Islam, Jakarta: Raja grafindo
Persada, Hlm. 229
[2]
Ibid, Hal: 230
[3]
Ibid,Hlm. 231
[4]
Ibid, Hlm. 232
[5]
Ibid, Hlm. 148
[6]
Akbar S. Ahmed, 2002, Rekonstruksi Agama Islam, Yogyakarta:Fajar Pustaka
Baru, hlm. 156
[7]
H.A. Mukti Ali, Islam dan Sekularisme di Turki Modern, Hlm. 150
[8]
Ajid Thohir, 2004, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam,
Jakarta:Raja Grafindo Persada, hlm. 219
[9]
Ira M. Lapindus, 1988, Sejarah Sosial Umat Islam, Jakarta : Raja Grafindo
Persada, hlm. 74
[10]
H.A. Mukti Ali, Islam dan Sekularisme di Turki Modern, Hlm. 161
[11]
Abdul Sani, 1998, Perkembangan Modern dalam Islam, Jakarta: Raja
Grafindo Persada, Hlm.131
[12]
Ibid, Hlm. 132







0 komentar:
Posting Komentar