MAKALAH AKHLAK
BERMASYARAKAT
Dosen Pengampu
Nurhapsari Pradnya Paramita, S.Pd.I, M.Pd.I
Disusun Oleh :
M. Mazrul Wafa (15812561)
SEKOLAH TINGGI AGAMA
ISLAM MASJID SYUHADA
( STAIMS YOYAKARTA)
TAHUN AJARAN 2015-2016
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr.wb
Alhamdulilahirobbilalamin,
rasa syukur kami hantarkan kepada Allah SWT atas segala karunia, rahmat,
rizki-nya dengan rasa terima kasih karena telah terselesaikannya tugas
pembuatan makalah tentang Akhlak
Bermasyarakat.
Kami menyadari bahwa banyak kekurangan dalam penyusunan makalah yang sangat sederhana ini baik kata-kata
maupun penulisan.karena dalam hal ini kami masih dalam tahap pembelajaran,
mungkin masih banyak hal-hal yang sangat perlu untuk diperbaiki. Maka dari itu
saran maupun kritik sangat kami harapkan untuk membangun diri,
dari para pembaca. Semoga dengan makalah ini dapat bermanfaat dari semua pihak yang memerlukan,
dan penulis mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang sesuai.
Wassalamu’alikum wr.wb.
Yogyakarta,
18 November 2015
BAB
II
PENDAHULUAN
A.
Pengertian
tolong-menolong
Tolong-menolong adalah
sikap yang baik antar sesama manusia tanpa memandang adanya perbedaan,tolong-menolong
merupakan sesuatu yang secara mutlak perlu direalisasikan dalam kehidupan
manusia, yang mana manusia pasti memerlukan pertolongan dari manusia yang lain
yang pada hakikatnya adalah pertolongan dari Allah SWT. Tanpa adanya
tolong-menolong, rasanya kehidupan manusia terasa hampa karena kurangnya rasa
solidaritas antara sesamanya. Nabi SAW bersabda yang artinya :
“Apabila engkau mencintai seseorang, maka tanyakanlah namanya, nama
ayahnya dan tempat tinggalnya. Maka jikalau ia sakit, engkau berkunjung
kepadanya. dan jikalau ia banyak pekerjaan, engkau berikan kepadanya
pertolongan” (HR. Al-Kharaithi dan Al-Baihaqi). Dalam
hadits tersebut diperintahkan oleh Rasulullah bahwa jika kita mencintai
seseorang yang belum kita kenal maka dianjurkan untuk menanyakan hal-hal yang
berkaitan tentangnya, seperti nama, alamat, bahkan nama ayahnya, hal ini
dilakukan agar jika suatu saat kaduanya berjumpa dan mendapati
salah satunya dalam kesulitan, maka timbullah tolong-menolong[1].
B.
Memulikan
tetangga
tetangga merupakan orang-orang yang berada di antara
kita, yang harus dihormati. Oleh karena itu tetangga mempunyai hak-hak yang
harus kita berikan kepadanya. Kita sebagai umat Islam hendaklah menghormati
hak-hak tetangga kita sebagaimana mestinya meskipun tetangga kita tersebut
non-muslim.
Penghormatan kepada tetangga tersebut memberikan suatu
pengertian kepada kita bahwa Islam adalah ajaran pembawa kemaslahatan bagi
manusia. Aturan-aturan yang dituntut memang suatu hal yang memang baik bagi umat
manusia.
Hak-hak mereka kalau dirinci akan
sangat banyak sekali, akan tetapi semuanya dapat dikembalikan kepada tiga hak
yaitu:
1.
Berbuat baik kepada mereka
Berbuat baik dalam segala sesuatu adalah karaktaristik
islam,demikian juga pada pada Al-Marwaziy
meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashriy pernyataan beliau :
“Tidak mengganggu bukan termasuk berbuat baik kepada
tetangga akan tetapi berbuat baik terhadap tetangga dengan sabar atas
gangguanya”.sehingga Rasullullah SAW bersabda yang artinya : “sebaik-baiknya
sahabat di sisi Allah adalah yang paling baik kepada sahabatnya dan sebaik-baik
tetangga di sisi Allah adalah yang paling baik kepada tetangganya”[2].
2.
Sabar menghadapi gangguan tetangga
Hak kedua untuk tetangga yang berhubungan erat dengan
yang pertama dan menjadi penyempurnanya.hal ini dilakukan dengan memanfaatkan
kesalahan dan perbuatan jelek mereka,khususnya kesalahan yang tidak disengaja
atau sudah dia sesali kejadianya.Hasan Al Bashriy berkata : “Tidak mengganggu
bukan termasuk berbuat baik terhadap tetangga akan tetapi berbuat baik terhadap
tetangga dengan sabar atas gangguanya”.
Sebagian ulama’ berkata
:”Kesempurnan berbuat baik kepada tetangga ada pada 4 hal” :
1.)
Senang dan bahagia dengan apa yang dimilikinya.
2.)
Tidak tamak untuk memiliki apa yang dimilikinya.
3.)
Mencegah gangguan darinya.
4.)
Besabar dari fangguanya.
3.
Menjaga dan memelihara tetangga
Ini merupakan hak ketiga untuk
tetangga. Imam Ibnu Abi Jamroh berkata: “Menjaga tetangga termasuk kesempurnaan
iman.Orang jahiliyah dahulu sangat menjaga hal ini dan melaksanakan wasiat
berbuat baik ini dengan memberikan beraneka ragam kebaikan sesuai kemampuan;
seperti hadiyah, salam, muka manis ketika bertemu, membantu memenuhi kebutuhan
mereka, menahan sebab-sebab yang mengganggu mereka dengan segala macamnya baik
jasmani atau maknawi. Apalagi Rasulullah shallallahu
‘alaihi wassalam telah meniadakan iman dari orang yang selalu mengganggu
tetangganya. Ini merupakan ungkapan tegas yang mengisyaratkan besarnya hak
tetangga dan mengganggunya termasuk dosa besar.”
C.
Bertutur
kata baik
Salah satu ciri orang iman adalah
berkata baik. Hal ini dinyatakan Rasulullah dalam hadist-nya: “Barang siapa
beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik-baik atau
diam”(HR.Bukhari). bahkan Rasulullah secara tegas menyatakan , “Seorang mukmin
bukanlah pengumpat ,pengutuk,berkata keji atau berkata busuk” (HR. Buukhari dan
Al-Hakim). Demikian pula dalam firman Allah Swt, “perkataan yang baik dan
pemberian manfaat lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan suatu yang
menyakitkan (perasaan si penerima),Allah maha kaya lagi maha penyantun”(QS
Al-Baqarah, 2:263).
Bertutur kata baik dan santun
merupakan cerminan akhlak seorang muslim yang membawa kedamaian bagi dirinya
maupun orang-orang di lingkungan sekitarnya. Bertutur kata yang baik dan santun
diterapkan kepada siapapun lawan bicara,baik oramg tua,sesama atau kepada orang
yang usianya berada di bawah kita dan juga kepada orang-orang yang kita
sayangi.
Manfaat yang diperoleh seorang
muslim yang berkata baik dan santun antara lain
menjadikan seorang muslim lebih tenang dan tentram,menjauhkan dari
perselisihan,serta akan lebih dihargai siapapun. Demikian pula dalam firman
Allah Swt, “ Dan katakanlah kepada haba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan
perkataan yang lebih baik (benar), sesungguhnya syaitan itu menimbulkan
perselisihan diantara mereka,sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata
bagi manusia “(QS Al-Israa, 17: 53).
Lidah memang tidak bertulang
sehingga ia bisa fleksibel digunakan oleh manusia untuk berbicara. Namun, jika
tidak disertai dengan kendali diri, maka dampak dari ucapan yang menyakitkan
akan lebih dahsyat daripada luka dengan sebilah pedang. Lukanya akan melekat
dalam jangka waktu yang lama, bahkan bisa sampai ajal memisahkan nyawa dari raga.
Karena itu, pergunakanlah dengan baik,hanya untuk hal-hal bermanfaat dan
menjauhkan diri dari akibat yang bisa merugikan,Allah Swt berfirman :
“sesungguhnya beruntunglah oarang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang
khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan
dan perkataan) yang tiada berguna” (QS.Al-Mukminnun, 23 : 1-3)[3].
D. Sikap Terhadap Non Muslim
Didalam Al-Quran terdapat beberapa teks yang mendukung
sikap positif,netral,maupun negatif terhadap pemeluk agama lain.
a.)
Sikap Positif
Ada ayat Al-Quran yang menyeritakan bahwa ajaran agama
pada dasarnya sama dan bahwa kaum muslimin seharusnya tidak membeda-bedakan
ajaran para Rosul, Allah Swt berfirman , yang artinya : “sesungguhnya kami
telah mengutus rasul pada tiap –tiap umat untuk menyerukan,sembahlah Allah dan
jauhilah Taghut” (QS An-Nahl: 36).
Dinyatakan pula pada surah Al-Baqarah yang artinya:
“.... kami tidak membeda-bedakan seorangpun dari rasul-rasul-Nya” (QS
Al-Baqarah: 285).
b.)
Sikap Netral
Pernyataan yang netral seperti
pernyataan bahwa masing-masing akan berbuat sesuai dengan apa yang sesuai
dengannya atau masing-masing mendapatkan balasan sesuai denagn agamanya,dan
bahwa bentuk lahiriah rasul-rasul Allah dapat berb
eda-beda. Hal demikian dapat dilukiskan dalam
firman-Nya ,yang artinya : “tiap-tiap orang berbuat menurut keadaanya
masing-masing,maka tuhanmu lebih mengetahui siapa lebih benar jalanya” (QS
Al-Isra’:48). Dalam surah Al-Kafirun juga mengajarkan tentang perinsip
toleransi-toleransi beragama.,dalam firman-Nya yang artinya : “Untukmulah
agamamu dan untukkulah agamaku” (QS Al-Kafirun: 6).
c.)
Sikap Negatif
Pernyataan yang bersifat bermusuhan semisal ayat yang
menyatakan bahwa orang Yahudi dan Nasrani tak akan puas sebelum Muhammad
mengikuti agama mereka.kemudian ayat yang menyatakan bahwa kaum muslimin
seharusnya memerangi orang-orang yang tidak beriman dan ahli kitab[4].
Akhlak kepada muslim
juga dapat dipraktekkan kepada non muslim, asalkan tidak dalam hal peribadatan
atau keagamaan. Dari berbagai penjelasan diatas jelaslah bahwa agama islam
melalui Al-Qur’an mengajarkan prinsip-prinsip akhlak yang menyeluruh, yang
dipraktekkan didalam mewujudkan hubungan kerjasama diantara anggota masyarakat
manusia secara luas, baik hubungan dibidang materil, jasa atau yang lain dengan
pendekatan yang saling berkait, yang akan dapat memperkuat ikatan satu sama
lain, sehingga terciptalah satu kesatuan, meskipun suku , agama, warna kulit,
atau bahkan banngsa yang berbeda-beda[5].
BAB
III
PENUTUP
A.
Penutup
Dari uraian yang telah di paparkan pada
halaman sebelumnya dapat di ambil beberapa kesimpulan,diantaranya adalah,
perinsip-perinsip akhlak terhadap masyarakat sesama muslim maupun terhadap non
muslim yang di ajarkan oleh Al-Quran dan Al-Hadist,merupakan salah satu bukti
keistimewaan ajaran islam yang kompleks dan menyeluruh.
Akhlak terhadap masyarakat sesama muslim
yang harus di laksanakan diantaranya
ialah :
1.) Saling
tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa.
2.) Menghormati
orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda , menyantuni yang fakir.
3.) Menjaga
lisan dalam perkataan agar tidak membuat orang lain yang ada di sekitar kita
mudah tersinggung.
4.) Memuliakan
tetangga.
Sedangkan
akhlak yang harus dilakukan oleh muslim terhadap non muslim diantarnya ialah:
1.) Tidak
mencampuri urusan agama lain.
2.) Bersikap
toleransi.
3.) Berbuat
baik dan menjalani kerjasama layaknya dengan muslim,asalkan tidak dalam masalah
pribadi.
B.
Daftar
Pustaka
1. CV.Faizan ,Tarjamahan Ihya’al Ghazali, jilid III
Ihya’ulumiddin, terjemahan Ismail Yakub,
Semarang.
2. Mahfud
MD,Moh.1997,sepiritualitas Al-quran Dalam
Membangun Kearifan Umat,yogyakarta :LPPAI UII.
3. Cahrisma,Moh Chazdiq,1991,Tiga Aspek Kemukjizatan Al-quran,surabaya :Bina Ilmu.
4. Departemen
Agama,2005,Al-quran dan terjemahanya,jakarta
:Pustaka Amani.
5. Tono
Sidik,1998,Ibadah Dan Akhlak Dalam Islam,yogyakarta:
UII Press.
[1]
Tarjamahan Ihya’al Ghazali, jilid III
Ihya’ulumiddin, terjemahan Ismail Yakub,
CV.Faizan, Semarang, halaman 513.
[2]
Attirmidziy dalam Jami’nya, No. 2070
[3]
Departeman agama.,Al-Quran dan
terjemahannya, jakarta : Pustaka Amani , 2005.
[4]
Machasin,Peluang Membangun Kebersamaan
dalam menyongsong pluraritas,dalam Moh. Mahfud MD, Spiritualitas Al-Qur’an dalam membangun kearifan umat(Yogyakarta :
LPPAI UII 1997),Hal :140-141.
[5] Moh.
Chazdiq Charisma,Tiga Aspek Kukjizatan
Al-Qur’an,(Surabay, Bina Ilmu,1991), Hal :110-115.







0 komentar:
Posting Komentar